Home > Uncategorized > MENYEDIAKAN MAKANAN KETIKA KEMATIAN – oleh: Abu Al Jauzaa’

MENYEDIAKAN MAKANAN KETIKA KEMATIAN – oleh: Abu Al Jauzaa’

Artikel daripada al-ahkam.net, http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=146739 yang dipetik dari http://opalotus99.blogspot.com/2008/12/kenduri-arwah-menurut-kaca-mata-sunnah.html untuk renungan kita bersama. Marilah kita fikirkan samada amalan tradisi masyarakat Melayu selari dengan kehendak Sunnah Rasulullah SAW atau pun tidak.

================================================================================

Pertanyaan:

“Di daerah saya – sudah menjadi tradisi – jika ada seseorang yang meninggal dunia, maka keluarga jenazah “diharuskan” membuat/menyajikan makanan bagi orang-orang yang ta’ziyah. Kadang-kadang hal ini memberatkan bagi keluarga jenazah kerana keadaan kewangan yang tidak memadai. Menurut anda, bagaimana syari’at Islam memandang tradisi/kebiasaan ini ?”

Jawapan:

Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW(As-Sunnah Ash-Shahiihah), dan sebaik-baik pemahaman atas dua hal tersebut adalah pemahaman para shahabat Rasulullah radliyallaahu ‘anhum ajm’ain (atsar as-salafush-shalih). Dan untuk menjawab pertanyaan saudara, maka kami akan mengembalikannya kepada 3 (tiga) hal tersebut.

Allah SWT telah berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian semua, dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian semua…..” (Surah al-Baqarah : 185).

Rasulullah SAW telah bersabda:

Sesungguhnya agama itu mudah. Orang yang bersikap berlebih-lebihan dalam beragama pasti akan kalah. Beramallah yang benar ! Beramallah yang paling dekat dengan pengamalan syari’at…” (HR. Bukhari nombor 39 – penomboran dari maktabah sahab : 39 dan 6098; dan Muslim nombor 2816).

Ayat dan hadith di atas memberikan kefahaman bagi kita semua bahawa agama Islam ini adalah agama yang mudah. Mudah untuk difahami dan mudah untuk diamalkan. Seorang muslim hanya dibebani untuk mengerjakan apa-apa yang dicontohkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang atau tidak ada contohnya (dari Rasulullah SAW). Itulah salah satu sisi kemudahan yang sangat besar bagi umat Islam. Mereka sekali-kali tidak dibebani untuk membuat-buat syari’at yang akhirnya justeru memberatkan mereka.

Kembali kepada inti pertanyaan saudara, maka ada beberapa riwayat shahih mengenai hal ini.

Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly RA, dia berkata:

“Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tetamu) merupakan sebahagian daripada niyahah (meratapi mayat)” (HR. Ahmad nombor 6905 dan Ibnu Majah nombor 1612).

Dari Thalhah RA, dia berkata:

“Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayat dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayat).” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/487).

Dari Sa’id bin Jubair RA, dia berkata:

“Merupakan perkara Jahiliyyah : An-Niyahah, hidangan keluarga mayat, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayat” (HR. Abdurrazzaq 3/550 dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafadh yang berbeza). Ketiga riwayat tersebut saling menguatkan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan meratapi mayat (an-niyahah).” (HR. Muslim nombor 67).

Pendapat Ulama’ Mu’tabar

Para ulama mu’tabar telah sepakat membenci perbuatan ini (yaitu berkumpul-kumpul di tempat mayat dan makan makanan di dalamnya). Kami akan menyebutkan beberapa di antara banyak perkataan ulama mengenai hal ini.

1. Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i berkata:

“Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayat berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak disukai. (Jelasnya) perbuatan tersebut termasuk bid’ah” (Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab 5/186 Daarul-Fikr, Beirut, 1417).

2. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i berkata:

“Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari penghidangan makanan oleh keluarga mayat dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah munkarah (terlarang) lagi dibenci, berdasarkan keterangan shahih dari Jarir bin ‘Abdillah” (Tuhfatul-Muhtaj 1/577, Daarul-Fikr, tanpa tahun).

3. Imam Ibnu ‘Abidin Al-Hanafy berkata:

“Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayet, kerana hidangan hanya pantas disajikan dalam waktu bahagia, bukan dalam waktu-waktu musibah. Dan hal itu merupakan bid’ah yang buruk bila dilaksanakan” (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 2/240, Daarul-Fikr, 1386).
`
4. Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata:

“Adapun berkumpul di dalam keluarga mayat yang menghidangkan makanan, hukumnya bid’ah makruhah (dibenci)” (Hasyiyah Ad-Dasuqi ‘alasy-Syarhil-Kabiir 1/419, Darul-Fikr, Beirut, Tanpa Tahun).

5. Syaikh An-Nawawi Al-Bantani (tokoh Indonesia yang hidup dan meninggal di Makkah di mana kitab-kitabnya banyak ditelaah di NU di Indonesia) berkata:

“Adapun menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul di malam penguburan mayit – yang biasa disebut al-wahsyah – adalah dibenci, bahkan diharamkan (dengan sangat) apabila biayanya diambil daripada harta-harta anak yatim” (Nihayatuz-Zain fii Irsyadil-Mubtadi’in halaman 281, Daarul-Fikr, Beirut, Tanpa Tahun).

Dari hadits, atsar, dan penjelasan ulama di atas telah jelas bagi kita bahwa berkumpul dan makan makanan di tempat ahli mayit bukanlah perkara yang disunnah. Bahkan itu bid’ah yang sangat dibenci. Semua ulama mu’tabar yang dalam keilmuannya telah menyepakati hal ini, kecuali sedikit di antara orang-orang awam yang pendapat mereka diabaikan.

Apa yang disunnahkan?

Bahkan yang menjadi sunnah adalah kita sebagai para tetangga ahli mayat, yang membuatkan makanan serta mengirimkannya kepada ahli mayat yang sedang ditimpa kesusahan. Dasarnya adalah perkataan Rasulullah SAW kepada para shahabatnya ketika Ja’far bin Abi Thalib RA gugur di medan jihad:

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far. Sesungguhnya mereka tengah ditimpa musibah yang menyibukkan mereka” (HR. Abu Dawud nombor 3132, At-Tirmidzi nombor 998, Ibnu Majah nombor 1610, dan lain-lain; shahih lighairihi).

Inilah yang diamalkan oleh orang-orang shalih dari kaum salaf sebagaimana yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/278):

“Tetangga mayat atau kaum kerabatnya wajib membuatkan makanan yang mengenyangkan untuk keluarga mayat pada hari si mayat wafat dan pada malamnya. Hal itu merupakan sunnah dan perbuatan yang mulia. Dan merupakan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang shalih sebelum dan sesudah kami”.

Kesimpulan

Berkumpul dan makan makanan di keluarga mayat adalah perbuatan yang tidak disyari’atkan. Dan bagi keluarga mayat, maka ia tidak perlu menyediakan makanan atau minuman yang sengaja diperuntukkan kepada para tetamu yang sedang ta’ziyah atau membantu pengurusan jenazah. Jika dia melakukannya, maka ia sama saja mendorong orang untuk melakukan perbuatan yang dilarang. Allah SWT berfirman :

“Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan kamu tolong-menolong dalam dosa dan maksiat” (Surah al-Maidah : 2).

Wallaahu a’lam. 

Sekian, terima kasih.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: